Beberapa waktu ini publik Indonesia tiba-tiba dihebohkan dengan fenomena penemuan beras plastik. Penemuan ini tiba-tiba menjadi berita utama yang menghiasi media massa tanah air. Tak pelak berita ini menimbulkan keresahan masyarakat. Tetapi belakangan berita mengenai isu beras plastik kian simpang siur. Hingga pada hari Selasa (26/05) Kapolri Badrodin Haiti dalam sebuah jumpa pers menegaskan bahwa tidak terbukti adanya beras plastik.
Isu beras plastik palsu muncul ketika ada laporan dari seorang warga Kota Bekasi, Dewi Septiani (29). Awalnya beras yang dibeli Dewi setelah dimasak menimbulkan efek mual-mual. Dewi kemudian mencari informasi di internet dan melihat video Youtube mengenai beras China yang ciri-cirinya mirip dengan beras yang dibelinya. Karena khawatir hal serupa menimpa teman-temannya, Dewi menyebarkan penemuan beras yang diduga olehnya palsu tersebut ke media sosial. Begitulah kemudian isu beras plastik dengan cepat menyebar ke masyarakat.
Dalam jumpa pres, Badrodin menyebut bahwa memang hasil pemeriksaan Sucofindo pekan lalu menunjukan hasil positif, sehingga Wali Kota Bekasi saat itu menyampaikan ke media bahwa beras sampel yang diperiksa Sucofindo mengandung bahan plastik. "Tapi hasil pemeriksaan di laboratorium forensik (Polri), BPOM, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian, hasilnya negatif, tidak ada unsur plastik." Perbedaan hasil pemeriksaan, kata Kapolri Badrodin Haiti, menimbulkan dugaan soal kemungkinan-kemungkinan salah pengambilan sampel, tambah Badrodin.
"Kemudian saya bersama Menteri Perdagangan (Rahmat Gobel) mendatangi Sucofindo, menanyakan proses pemeriksaan dan meminta sampel yang masih tersisa di Sucofindo. Kemudian kami periksakan lagi ke (laboratorium) BPOM dan laboratorium Polri. Hasilnya juga negatif."
"Oleh karena itu, Kami simpulkan bahwa beras yang diduga plastik tidak ada."
Hasanudin Abdurakhman, seorang Doktor fisika mengatakan bahwa bisa jadi kandungan plastik dalam beras akibat kesalahan penanganan atau tercampur secara tak sengaja. Di sisi lain baik dari segi produksi maupun segi ekonomi tidak masuk akal bila memproduksi beras palsu dari plastik. Karena harga bahan dasar plastik -bahkan yang daur ulang- akan lebih mahal dari beras dan teknologi untuk memproduksinya juga tidak bisa yang terlalu sederhana. Lebih-lebih plastik tak bisa dicerna dan gampang dikenali rasanya yang asing oleh lidah.
Ya, begitulah isu seputar beras plastik yang terlanjur heboh di media massa dan dengan cepat menjalar ke masyarakat. Secara nalar beras plastik memang sesuatu yang seharusnya mudah dikenali bila memang beredar di masyarakat. Jikapun memang benar ada peredaran beras plastik, seharusnya dapat dengan mudah ditemukan bukti-bukti keberadaan beras plastik dalam skala yang besar tentunya. Tetapi jika kita simak bagai mana awal dari isu ini dan perkembangannya, sepertinya ini hanya sebuah isu belaka yang sengaja dibuat untuk meresahkan masyarakat.
Bagaimana menurut anda?


0 comments:
Post a Comment