Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, 26 January 2016

gadis cantik berkacamata


aku melangkah di jalanan dingin
sendiri, berkabut sepi di pagi ungu
***
aku berjalan
terus melangkah di ufuk  jauh
melampaui yojana tempat kau bersimpuh
tetapi bayangmu masih saja menyentuh
jiwaku yang tak lagi utuh

di jalan-jalan sepi yang dirintiki hujan
masih ku dengar nadamu menyanyi syahdu
dihiasi warna muka bunga dan pepohonan yang sendu

bukankah tlah kulepas kau di balik horison?
sedang di dalam hatiku tlah kau lepaskan sauh
menancap di sini, di nyawa yang tinggal separuh
***
duhai gadis cantik berkacamata
kau terjatuh di pangkuan..
di bawah terang cahaya rembulan
di dalam mata yang berkaca-kaca

Thursday, 21 January 2016

jangan menunggu

jangan kau tunggu
seseorang itu yang belum kau tahu
meski di pagi saat mata terbuka
atau di sore saat lelah bekerja
bayangan itu hadir dan bertanya
"sedang apa?"

jangan kau nanti
wajahnya yang tak pasti
meski saat terlelap di malam hari
seolah terbayang ia dalam mimpi

jangan menunggu
ia mungkin terjatuh di tempat yang dulu
masih mengaduh dan rapuh
sendirian menyeka eluh dan peluh

jangan berharap segera
karena mungkin masih terlalu lama
sampai nampak batang hidungnya
untuk temui ayah dan bunda

jangan menunggu
sekali lagi jangan kau tunggu
bila lelah menjadi pilu
bila tak sanggup menanggung rindu

Saturday, 11 January 2014

Siapa hendak bertanya senyapnya malam?

Siapa hendak bertanya senyapnya malam?
Saat  jam dinding sanggup bicara tentang diam
Saat percik air mata sayup berkisah riam

Jika bukan tuan, biarlah saya yang bertanya
Atas segala wajah dan peristiwa
Yang terlukis muramnya durja

Bukankah tuan pernah bercerita?
Bila duka datang berselimut lara
Adalah saat untuk mendoa tiba?

Bukankah tuan telah ajarkan?
Bila sempit datang berdesakan
Maka biarlah kita dersikkan...

Sebuah syair yang dahulu
Yang mampu dilantangkan si bisu
Yang dapat diucap kelu
Yang sanggup dieja angin lalu
Yang merdu...

Sungguh tuan saya tidak mengerti
Atas segala raut yang tak bertepi
Jika tak hendak tuan bisikkan kini
 

Saturday, 27 July 2013

datang

datang
apa yang membawamu, datang
siapa yang membawamu
untuk apa, datang

datang
apa kau mengenal hujan?
apa kau tahu angin?
cahaya?

datang
mengapa kau harus, datang
apakah kau kan pergi?

datang
kau hadir dalam tanya
dalam teka-teki

datang
untuk bertamu

datang
dan bertanya

datang..

Wednesday, 2 January 2013

separuh

Ada yang tak biasa
Ketika pagi ini aku bangun
Tiada sapa
Terasa berbeda
Meja makan yang bersih
Tanpa sarapan yang tersedia
Ada hal yang kurang
Di teras rumah
Menyeduh teh sendiri saja
Janggal, tak lazim, aneh
Di mana duhai
Penyempurna segala hal yang tak lagi utuh kini
Dalam hati yang tersimpan?
Dalam ingatan yang terekam?
Memanggil dengan suara lirih
Seakan hendak meraih
Tetapi entah apakah dekat ataukah jauh
Atau hanya bayang-bayang belaka
Yang selalu kusangka nyata
Mendekat seakan hendak menabrak
Tetapi kosong
Tetapi kosong
Senyum yang separuh
Bahagia yang separuh
Sedih yang separuh
Rasa yang separuh
Tak pernah penuh
Tanpa sapa pagimu
Tanpa sarapan bersamamu
Tanpa menyeduh teh denganmu
Tanpa rasa yang penuh

Saturday, 10 March 2012

Suriah memanggil kita


ada sebuah cerita..
di suatu negeri tempat para hamba-hamba terbaik hijrah..
negeri di mana malaikat membentangkan sayap-sayapnya...
negeri yang terpilih..

tapi, kini ia menangis..
raja yang lalim menguasainya..
menindas kaum tak berdosa..
merampas tanah mereka..
mengusik keyakinan mereka..

kini ia menangis..
perang berkecamuk..
anak-anak, wanita..
orang tua..
pemuda-pemuda.. 
mereka berjuang melawan penindasan..

apa yang terjadi di negeri yang terpilih?
mereka terusir di tanah mereka sendiri
mereka sakit.. mereka terluka..
tapi tidak ada pengobatan..
mereka lapar.. mereka sengsara..
tapi siapa pelipur lara? 

apa yang terjadi di negeri yang terpilih?
apa yang harus kita lakukan?

Setidaknya panjatkanlah sebaris doa untuk mereka..
Setidaknya panjatkanlah sebaris doa untuk mereka..

karena jika kelak Sang Pencipta bertanya kepada kita
“Apa yang telah engkau lakukan untuk mereka?”
bagaimanakah kita akan menjawabnya?

Setidaknya panjatkanlah sebaris doa untuk mereka..
Suriah memanggil kita..

Tuesday, 12 July 2011

Jejak

Angin makin kencang
Terpaan yang membuat mata seakan meleleh
Larut terbawa keharuan
udara
Dan semua

Tiada yang lebih menyejukkan
selain belaian masa kecil
Akar-akar idealis kita
Keyakinan

Kembali ke sana sebagai makhluk transparan
Segala ketahui oleh citra
Tanpa pandangan
Hanya detakan
Tersenyum

Tetap seperti engkau yang dulu
Dalam rahim ketulusan
Dalam syahadat yang dibisikkan
Dalam cinta pertama yang dikenal

---puisi yang saya tulis 1 Januari 2009 ini, hingga kini saya rasa adalah yang terbaik yang pernah saya buat, yang paling 'calm'. tentang masa kecil yang suci, dan doa semoga kelak kita akan kembali menjadi suci. "Jejak" ini pernah saya ikutkan lomba yang bertema tentang perjalanan kehidupan pada tahun 2010. Ya, karena temanya cocok saya ikutkan saja, tapi sayang ternyata tidak menang. sedih juga, puisi terbaikku kalah! tapi kemudian puisi ini terpilih untuk diterbitkan dalam buku antologi puisi "Kepingan Kehidupan" yang terbit baru-baru ini. ya, dengan itu semoga jejakku ini dapat menginspirasi lebih banyak orang. oh ya, kalau ada yang mau bukunya bisa hubungi saya ^^---