Hari
ini tiba-tiba banyak orang memperhatikan hilal. Hari ini adalah tanggal 29 sya’ban,
banyak mata tertuju ke langit. Menjadi saksi apakah bulan yang baru terlahir
hari ini atau tertunda esok. Setelah hilal itu terlihat, banyak orang tiba-tiba
memperhatikan amalannya. Menjaga perbuatannya, menjadi setingkat, atau setengah
tingkat lebih alim. Orang-orang mendadak merasa lebih dekat dengan Penciptanya.
Merasa harus lebih mencintai Sang Maha Mencitai. Ajaib sekali bukan?
Eits,
sebelum terlalu jauh, sebenarnya tulisan ini tidak hendak membicarakan bulan
yang suci itu. Saya hanya ingin menyampaikan sebuah surat perpisahan kepada
anda. Sebagaimana bulan dan matahari yang berputar, maka saya pikir waktu telah
tiba. Saya memutuskan untuk berevolusi. Saya hendak berkelana, ke tempat asing
yang belum pernah saya kunjungi. Saya tidak tahu dimana pastinya, biarlah nanti
nasib yang menentukan sebagaimana ia mempertemukan kita dulu.
Saya
tahu, ketika anda membaca tulisan ini, anda pasti bersedih. Perpisahan. Sebuah
keadaan yang begitu asing bagi kita. Sebuah kata yang kita hindari selama ini.
Sebuah niscaya yang meski tidak kita harapkan, secara tidak sadar selalu kita
tunggu. Karena ia pasti. Datang mengambil sesuatu yang berharga milik kita.
Tetapi jangan takut. Ia bukan makhluk yang jahat. Ia hanya ciptaan yang terlihat
kejam. Barangkali kita hanya akan menebus dengan air mata, dan segumpal
penyesalan, atau kesedihan. Dan waktu akan selalu menjadi pelipur yang manjur.
Pada
saat saya menuliskan ini, terbayang begitu banyak ingatan. Saat pagi yang
cerah. Saat kita saling bertanya. Saya bertanya siapakah anda. Anda bertanya
siapakah saya. Di dalam hati. Sejak saat itu kita melalui banyak hal. Bermain
bersama. Tertawa. Menangis bersama. Berbagi. Bermain bersama. Belajar.
Menghadapi duka, lara. Hujan ataupun terik. Saya sangat berterima kasih atas
waktu yang kita lalui bersama. Terasa begitu indah. Bagai cahaya. Terang,
melesat begitu saja.
Anda
tahu, ketika saya mengingat masa-masa itu. Saya selalu ingin mengabadikannya
melalui tulisan. Saya selalu ingin bercerita lewat huruf-huruf. Memutar ulang
masa yang telah berlalu dengan kata-kata. Tetapi ketika hendak mengetikkannya,
huruf-huruf itu, kata-kata itu entah mengapa tak ingin bicara. Mendadak ia
kelu. Bisu. Seketika ia menjadi kuyup, oleh air yang entah turun dari mana. Sebenarnya,
anda lebih tahu alasannya. Bahwa saya memang tidak pandai bercerita.
Di
paragraf terakhir ini, saya hendak berpesan kepada anda. Anda tentu pernah
sekali-dua kali membaca puisi saya. Suatu ketika saya pernah menulis bahwa
meski kita berpisah, sejatinya kita tetap bisa bersama. Meski raga saya, jasad
saya tak dapat anda jumpai, setidaknya anda masih dapat merasai jiwa saya.
Dalam setiap tulisan saya, dalam setiap kenangan yang anda simpan. Dimana saja,
saya tahu anda memiliki saya dalam tubuh anda. Dalam jiwa anda. Saya adalah
diri anda sendiri. Bayangkan anda adalah amoeba yang membelah diri, ketika saya
pergi. Anda tetap bisa hidup dengan normal.
Ah
maaf, ternyata saya perlu menulis satu paragraf lagi. Saya tahu, terkadang
urusan perasaan memang tak dapat diduga. Tetapi ingatlah, jika anda rindu
nanti, tulislah sepucuk surat, yang tak perlu pena untuk menuliskannya pada
kertas. Bisikkanlah. Biar yang Maha Mendengar menyampaikan surat rindu anda
kepada saya. Biar yang Maha Mendengar menyampaikan segalanya. Anda tentu selalu
percaya kepada-Nya, bukan?
Bulan
ini, tiba-tiba banyak orang berlomba untuk menjadi lebih baik. Tetapi saya
tidak merasa ada yang berubah dalam diri saya. Hari ini saya merasa perlu untuk lebih mencintai anda. Esok, saya akan pergi, menjari jalan terbaik untuk anda. Jika
saya kembali, anda akan menemui yang terbaik dari diri saya. Dan jika saya
pergi selamanya, maka itulah yang terbaik yang dapat saya berikan kepada anda. Terima kasih atas segala yang anda berikan kepada saya. Terima kasih Tuhan.

0 comments:
Post a Comment